Merencanakan Aksi Nonkekerasan

kembali ke daftar isi

Demonstrasi itu sendiri tidak dapat mengakibatkan terjadinya pe­perangan atau mengkoreksi sebuah ketidakadilan yang berakar dalam. Melihat kengerian-kengerian yang terjadi di dunia, orang mudah untuk melakukan koreksi non-kekerasan—langsung melakukan aksi atau aktivitas tanpa melangkah mundur atau melihat ke depan. Sering sekali terjadi, kelompok-kelompok itu melangkah secara langsung dari mengenali sebuah problem ke membuat taktik. Atau kita menderita “kelumpuhan analisis”, mendidik diri kita sendiri atau orang lain, namun tidak pernah melakukan aksi atau mempraktekkannya, dan—karenanya—tidak pernah menjangkau tujuan kita. Kekuatan sebuah kampanye non-kekerasan muncul dalam paduan kreatif dari taktik, pemikiran strategis dan komitmen dari peserta.

Mempengaruhi perubahan sebuah isu tertentu biasanya mempersyaratkan sebuah kampanye, yang merupakan serangkaian aktivitas dan aksi-aksi yang dilaksanakan dalam satu periode waktu tertentu untuk mencapai tujuan-tujuan tertentu yang dinyatakan secara jelas. Kampanye-kampanye dimulai oleh sekelompok orang dengan melibatkan orang lain yang memiliki kesamaan keprihatinan. Para peserta mengembangkan suatu kesamaan pemahaman dan visi, mengidentifikasi tujuan-tujuan dan memulai proses penelitian, pen­didikan dan pelatihan yang memperkuat dan memperluas jumlah peserta yang terlibat dalam aktivitas-aktivitas dan aksi tersebut.

Sebuah kampanye memiliki tujuan-tujuan dalam tingkatan yang berbeda. Pertama adalah tuntutan kampanye tertentu dinyatakan secara jelas. Kebanyakan kampanye menentang kebijakan-kebijakan pimpinan dalam suatu hirarki. Guna mencapai tujuan ini, kita perlu memasukkan satu hal baru dalam pengambilan keputusan mereka—membujuk mereka dengan informasi baru, meyakinkan kelompok pendukung, atau mengingatkan mereka mengenai resistensi yang bakal mereka hadapi. Kita tentu tidak mem­perlakukan mereka sebagai musuh, tetapi sebagai lawan—yakni orang-orang yang harus dihentikan atau digerakkan agar mau mengakhiri sebuah ke­tidakadilan tertentu.

Sebuah kampanye juga memiliki tujuan-tujuan internal seperti me­ning­kat­kan jumlah dan kapasitas peserta. Sebuah kampanye non-kekerasan merekrut orang melalui proses pemberdayaan. Hal ini melibatkan pem­berdayaan personal (orang menemukan dan melatih kekuatan mereka sendiri untuk menghadapi tekanan, pengucilan dan kekerasan, partisipasi, per­damaian dan hak asasi manusia) dan membangun kekuatan kolektif. Kelompok-kelompok bisa belajar bagaimana menjadi pengelola dan ahli strategi politik dalam proses tersebut.

Kampanye-kampanye seharusnya juga mengkomunikasikan visi dari apa yang kita inginkan, mengantarkan pada kampanye-kampanye lebih jauh yang menentang struktur-struktur kekuasaan yang ada. Beragam kampanye dapat menggerakkan kita pada pemberdayaan sosial yang mengantarkan kita pada transformasi sosial yang ingin kita wujudkan. Dalam pe­latih­an dan perencana­an, kita perlu mempertimbangkan semua aspek dari proses pemberdayaan sosial non-kekerasan: pemberdayaan personal, kekuatan masyarakat dan ke­kuatan massa.

Untuk mengembangkan sebuah strategi non-kekerasan yang efektif, kita perlu mengembangkan keahlian-keahlian berpikir strategis.

Mengembangkan Strategi yang Efektif

Kampanye-kampanye kreatif biasanya memegang kunci untuk meng­eksplo­rasi potensi-potensi non-kekerasan. Ketika mereka bergairah akan kekuatan dan kemungkinan-kemungkinan sebuah kampanye non-kekerasan, mereka mung­kin akan lebih dapat mengembangkan sebuah strategi kampanye yang efektif. Latihan-latihan yang disarankan berikut ini akan membantu me­muncul­kan semangat dan gairah, juga menawarkan saran-saran untuk membuat kampanye-kampanye yang efektif dan memahami bagaimana perubahan-perubahan dapat terjadi.

Bila Anda bekerja untuk perubahan sosial dalam masyarakat Anda, Anda mungkin memilih sebuah proses kelompok untuk mempersiapkan sebuah strategi yang efektif untuk menggerakkannya ke arah perubahan. Se­buah proses kelompok memiliki sumber daya yang sudah ada dalam kelompok tersebut dan mampu membangkitkan kesungguhan dan komitmen.

Untuk memulai, Anda mungkin ingin memiliki kelompok yang mempunyai pengetahuan yang sama tentang kampanye, menggunakan latihan “strategi 10/10” atau mendiskusikan bagaimana perubahan terjadi dengan menanyakan pada peserta apa yang mereka ketahui tentang kam­pa­nye efektif dan bagaimana membuat kampanye tersebut efektif. Buatlah sebuah check list dari jawaban tersebut. Studi kasus (lihat Petunjuk Studi Kasus Kampanye) adalah cara lain belajar dari apa yang telah dilakukan di masa lalu. Mereka tidak menawarkan blue print, namun menunjukkan kepastian, kekayaan sumber daya yang dimiliki, kesabaran dari kampanye untuk non-kekerasan yang berhasil. Lihat bab Sumber Daya (bab sebelas) film-film dan buku-buku yang menggambarkan kampanye-kampanye non-kekerasan atau menggunakan beberapa kisah yang diceritakan dalam hand­book ini atau weblink.

Bila kelompok Anda memiliki banyak pengetahuan, sementara Anda memiliki waktu yang terbatas, atau ada faktor lain yang membuat model review sejarah ini tidak memungkinkan untuk dilakukan, Anda dapat meng­ubahnya de­ngan mengembangkan proses Anda sendiri untuk sebuah strategi yang ber­hasil dalam membuat perubahan. Agar dapat mengem­bangkan strategi yang efektif, sebuah proses harus:

■ memberi nama dan menggambarkan problem atau situasi ■ menganalisis mengapa problem tersebut muncul ■ menciptakan sebuah visi yang diinginkan oleh kelompok tersebut, termasuk tujuan-tujuan yang jelas, dan ■ mengembangkan sebuah strategi untuk mencapai tujuan-tujuan tersebut Langkah-langkah tersebut dijelaskan di bawah ini.

Memberi Nama dan Menggambarkan Problem

Untuk kebanyakan orang yang menghadapi masalah dalam kehidupan ke­seharian mereka, menggambarkan dan menganalisis masalah dalam proses hidup mereka merupakan hal yang alami. Tetapi orang lain mungkin perlu untuk menetapkan. Langkah-langkah ini dimaksudkan untuk membantu orang bergerak bersama dalam sebuah proses non-hirarkhis, proses inklusif menuju pemahaman yang lebih mendalam mengenai strategi non-kekerasan yang efektif.

Memberi nama dan menggambarkan suatu masalah atau situasi mungkin tam­pak terlalu sederhana sebagai langkah awal bagi sebagian kalangan, tetapi bila hal ini tidak dilakukan secara kolektif, orang mungkin akan memiliki asumsi dan gambaran yang berbeda dan juga pesan dan tujuan yang berbeda. Kita tentu tidak dapat menganalisis tanpa kejelasan mengenai apa yang sedang kita analisis. Melakukan proses ini secara bersama akan menguatkan partisipasi dari individu-individu di samping juga mengem­bangkan aksi-aksi kolektif.

Latihan-latihan: sebuah kelompok dapat memilih latihan ‘Pohon’ atau ‘Pilar-pilar Kekuasaan’ untuk mengguna­kan seluruh proses berpikir dan merencanakan secara strategis, tergantung pada apa yang lebih cocok dengan isu dan gaya mereka.

Menganalisis Mengapa Problem tersebut Muncul

Untuk mentransformasikan sebuah situasi masalah, kita perlu memahami mengapa masalah tersebut ada dan siapa yang secara potensial mendukung dan menentangnya. Kita perlu menganalisis struktur kekuasaan untuk me­nemukan entry point dari perlawanan itu, kerja konstruktif dan sebagainya. Se­buah analisis seharusnya mempertimbangkan pertanyaan-pertanyaan berikut ini:

■ Apakah kita mengetahui konteks dan akar-akar penyebab muncul­nya masalah? ■ Siapa yang mendapatkan keuntungan dan siapa yang menderita dari munculnya masalah tersebut dan bagaimana hal itu terjadi? ■ Siapa yang memegang kekuasaan, siapa yang memiliki kekuatan untuk menciptakan perubahan (siapa yang mengambil peran dalam struktur yang mendukungnya, siapa yang menentangnya)? ■ Adakah perbedaan antara peran pria dan wanita? (lihat juga bab 3 ‘Jender dan Non-kekerasan’) ■ Apa kekuatan, kelemahan, kesempatan dan ancaman untuk sebuah kampanye guna merubahnya? (analisis SWOT) ■ Teori apa yang kita gunakan untuk analisis tersebut? ■ Bagaimana komitmen kita untuk melakukan perubahan sosial non-kekerasan tersebut dapat mempengaruhi analisis kita?

Latihan-latihan: terus gunakan latihan ‘Pohon’ atau latihan ‘Pilar’. Guna melihat lebih dalam mengenai siapa yang mendukung dan menentang struktur, gunakan latihan ‘Spektrum Sekutu’ yang dapat membantu kita mengidentifikasi dan menganalisis para pemain, para sekutu atau lawan kita dan membantu kita dalam membuat keputusan-keputusan strategis dengan mempertimbangkan siapa yang ingin kita gerakkan.

Menciptakan Visi yang Kita Inginkan

Selanjutnya, sebuah kampanye membutuhkan adanya sebuah visi yang diinginkan. Bila tidak ada visi maka aksi-aksi sekedar sebagai reaksi dan protes tersebut akan diacuhkan. Sebuah visi mungkin bisa berupa tujuan jangka panjang yang ambisius. Akan sangat baik bila kita meminta kelompok-kelompok tersebut mendiskusikan visi mereka tentang permasalahan-permasalahan besar misalnya mengenai perdamaian dunia, keadilan ekonomi, dan masyarakat yang kita inginkan. Tantangan yang akan muncul kemudian adalah untuk meng­iden­tifikasi langkah-langkah pertama dalam rangkaian perjalanan tersebut, tujuan jangka pendek dan menengah yang mengantarkan pada tercapainya tujuan jangka panjang. Kampanye-kampanye yang ada selalu menghadapi dilema-dilema dalam mendesain tujuan-tujuannya. Guna mendapatkan dukungan yang semaksimal mungkin, sebuah kampanye dapat memilih se­buah tujuan jangka pendek sebagai sebuah ‘angka atau target bersama yang paling minim’, yaitu sebuah area luas yang disepakati bersama. Bagaimana pun, bila kampanye ini tidak memiliki implikasi yang lebih dalam, bila hal tersebut tidak mendorong langkah lebih jauh guna transformasi sosial, maka perubahan yang dihasilkan mungkin sangat dangkal dan tidak me­muaskan. Pada sisi yang lain, tujuan-tujuan utopian yang tampak tidak realistik tidak mungkin digunakan untuk memobilisasi massa kecuali bila ada tujuan-tujuan antara yang dapat dicapai. Ketika tujuan final bersifat revolusioner, kampanye-kampanye yang ada perlu mengidentifikasi ke­mungkinan langkah tertentu yang terbatas namun lebih dapat diterima. Pertanyaan-pertanyaan yang perlu dipertimbangkan ketika mengem­bang­­kan tujuan-tujuan tersebut adalah:

■ Apakah tujuan-tujuan tersebut realistik, dapatkah tujuan-tujuan ter­sebut dicapai dalam satu periode waktu tertentu? ■ Apakah orang akan percaya bahwa mereka dapat mencapai tujuan tersebut? ■ Adakah tujuan-tujuan tersebut selaras dengan maksud dan ka­pasitas kelompok-kelompok yang ada? ■ Apakah tujuan-tujuan tersebut terukur, akankah kita mengetahui kapan kita akan mencapai tujuan tersebut? ■ Apakah tujuan-tujuan tersebut selaras dengan kehidupan orang-orang yang ada, akankah mereka tergerak untuk ikut ber­partisipasi? ■ Akankan orang merasa diberdayakan oleh ‘kemenangan’ tersebut?

''Latihan-latihan: Impikanlah sebuah pohon yang sehat—gunakan per­tanyaan-pertanyaan yang ada dalam latihan ‘Pohon’. Dapatkah kita menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas secara positif? ‘Pilar-pilar Kekuasaan’. Apakah tujuan-tujuan jangka pendek dan menengah tersebut dapat mem­perlemah pilar-pilar tersebut? Apa yang kita tuju untuk melakukan hal-hal pokok tersebut? Dapatkah kita menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas secara positif? (Guna mendapatkan informasi lebih lanjut mengenai pesan-pesan, lihat juga ‘Membuat Pesan’ dalam ‘Peran Media’, dan ‘Menyampaikan Pesan Protes’,).

Mengembangkan Sebuah Strategi

Ketika Anda menggambarkan dan menganalisis masalah, sebuah visi dari apa yang Anda inginkan dan tujuan-tujuan yang ingin dicapai, Anda perlu mengembangkan sebuah strategi, yaitu sebuah rencana untuk sampai ke sana. Pengembangan strategi tidak dilakukan dalam satu kali pertemuan atau oleh satu orang. Ini merupakan proses membuat keputusan, mengorganisir, me­mobilisasi, dan mengembangkan strategi-strategi kreatif.

Berikut ini merupakan komponen-komponen dasar dari sebuah kam­panye non-kekerasan. ‘Cerita dan Strategi’ (bab 8) menggambarkan bagai­mana komponen-komponen ini digunakan dalam kampanye.

Komponen-komponen Sebuah Kampanye

Pertanyaan-pertanyaan berikut ini dapat membantu Anda dan kelompok Anda dalam proses mengembangkan sebuah strategi kampanye. Anda dan kelompok Anda perlu melakukan pekerjaan ini berdasarkan proses yang terus berlangsung, tidak hanya pada permulaan sebuah kampanye. Buku pegangan ini memasukkan banyak sumber untuk membantu Anda melalui proses ini.

Pemahaman Bersama

Adakah sebuah kesamaan pandang dalam memahami masalah atau situasi yang muncul? Sudahkah kita menganalisis mengapa hal tersebut muncul? Apakah analisis tersebut masuk pada struktur sosial, ekonomi dan politik. Apakah kita memiliki kesamaan pandang mengenai apa maksud dilakukannya kampanye non-kekerasan? Apakah kita memiliki sebuah proses pengambilan keputusan yang disepakati?

Disiplin Non-Kekerasan

Apakah orang-orang yang mengelola kampanye telah mendiskusikan dan menyetujui prinsip-prinsip non-kekerasan? Adakah petunjuk atau panduan non-kekerasan? Adakah panduan tersebut dinyatakan secara jelas sehingga semua orang memahami? (Lihat “Prinsip-Prinsip Aksi Non-Kekerasan”, dan “Petunjuk Non-Kekerasan”).

Penelitian dan Mengumpulkan Informasi

Apa yang kita ketahui, apa yang perlu kita ketahui? Apakah kita sedang mencari kebenaran atau sekedar mencoba ‘membuktikan pihak kita’? Siapa yang dapat mengumpulkan informasi yang kita butuhkan? Penelitian juga men­­cakup penemuan tentang bagaimana orang lain berpikir tentang isu ter­se­but. Listening Projects Community (lihat http://www. listeningproject.info) adalah satu cara untuk melakukan hal ter­se­but. Listening project membantu para aktivis me­­lihat lebih dalam mengenai sebuah isu, mengumpulkan informasi yang digunakan se­bagai dasar penentuan strategi ke depan sambil mengem­bang­kan hu­bungan antara mereka yang diwawancarai dan mereka yang men­dengar. Listening project telah dilakukan di Kamboja, Kroasia, Afrika Selatan dan Amerika Serikat.

Pendidikan

Apakah informasi tersebut dapat dipahami oleh orang-orang yang ingin kita gapai? Peran dari para aktivis non-kekerasan adalah menetapkan pe­ne­litian dalam bentuk yang secara luas dapat digunakan dalam sebuah kampanye, atau memfasilitasi orang melalui proses tersebut. Apakah kita sedang menggunakan pendidikan popular atau proses-proses yang hati-hati? Sudahkah kita mengembangkan materi pendidikan yang baik dengan mem­pertimbangkan konstituen dan sekutu yang berbeda yang ingin kita capai? Proses-proses pendidikan lain apakah yang dapat kita gunakan (seperti teater jalanan)? Bagaimana kita menggunakan media untuk me­ning­katkan kesadaran?

Pelatihan

Apakah kita memerlukan pelatihan untuk mempelajari keahlian mengem­bangkan strategi dan pengelolanya (seperti proses kelompok, me­rencanakan strategi, kerja media)? Apakah kita menyediakan pelatihan untuk mem­persiapkan orang-orang untuk aksi-aksi non-kekerasan? Apakah pelatihan tersebut tersedia bagi semua orang? Apakah pelatihan-pelatihan tersebut mengacu pada isu-isu penekanan dan bagaimana kita berurusan dengannya baik dalam konteks sosial, dalam kelompok dan hubungan kita? (lihat bab 4 dan juga ‘Ucapkan’, dan ‘Dialog Jender untuk Para Pem­bangun Pe­rdamaian’, latihan-latihan).

Sekutu-sekutu

Siapa sekutu-sekutu kita? Siapa yang mungkin menjadi sekutu atau pen­dukung bila kita berkomunikasi secara lebih intensif dengan mereka? Bagai­mana kita memperoleh dan membangun hubungan kerjasama dengan kelompok-kelompok yang ingin kita ajak untuk berkoalisi? (Gunakan “Spektrum Sekutu’, h. 143, latihan-latihan untuk mengidentifikasi sekutu-sekutu potensial).

Negosiasi

Sudahkah kita secara jelas mengidentifikasi dengan siapa kita hendak bernegosiasi? Bagaimana kita akan berkomunikasi dengan mereka? Apakah kita sudah paham akan apa yang kita inginkan? Sudah jelaskah bahwa tujuan-tujuan kita tersebut tidak melecehkan lawan kita, melainkan untuk bekerja mencari solusi yang penuh kedamaian?

Kerja Konstruktif/Institusi-institusi Alternatif

Gandhi melihat program-program konstruktif (lihat ‘Program Konstruktif’, h. 40) sebagai awal membangun masyarakat baru. Sebuah elemen kunci perubahan sosial didesain untuk kebutuhan-kebutuhan sebuah masyarakat (seperti kesamaan ekonomi, kesatuan komunal, mengembangkan industri-industri lokal) dan untuk mengembangkan masyarakat. Kerja konstruktif sering­kali hilang di kampanye-kampanye yang berlangsung di Barat dan ditekankan di dunia Timur. Sembari kita mengatakan ‘tidak’ untuk sebuah ke­tidakadilan, bagaimana kita mengatakan ‘ya’? Bagaimana kita mulai mem­bangun visi dari apa yang kita tuju?

Institusi-institusi alternatif mungkin merupakan kreasi-kreasi temporal, sem­bari menyediakan transportasi alternatif memboikot sistem bus segregatif-apartheid.

Aksi Legislatif dan Pemilihan Umum

Apakah aksi-aksi yang terkait legislatif atau pemilihan umum merupakan bagian dari kampanye, sebagai sebuah taktik pendidikan atau sebuah tujuan? Bagaimana kita memberi tekanan kepada para politisi? Bagaimana kita melatih ke­kuatan kita? Bagaimana orang-orang akan berpartisipasi dalam aksi ter­sebut? Apa rencana kita bilamana tujuan kita tidak tercapai?

Demonstrasi

Bagaimana kita dapat mendemonstrasikan keprihatinan kita? Sudahkah kita mempertimbangkan metode-metode aksi non-kekerasan? (Lihat ‘Bentuk-bentuk Aksi’, h. 45). Apakah kita telah paham tujuan demonstrasi dan bagai­mana tujuan-tujuan tersebut membantu kita untuk mencapai maksud kita? Bagai­mana kita akan melibatkan masyarakat umum? Akankah aksi-aksi kita masuk akal bagi masyarakat lokal?

Aksi Non-Kekerasan Langsung/Pembangkangan Sipil/Penolakan Sipil

Sudahkah kita melakukan semua yang dapat kita lakukan untuk men­dukung aksi kita? Akankah hal tersebut mendorong orang untuk ikut terlibat atau akankah hal tersebut justru kontra produktif? Bagaimana hal tersebut akan menjadi penyebab keberhasilan kita ataukah hanya akhir dari aksi itu sendiri? Apakah tujuan kita jelas? Akankah hal tersebut menjadi semacam tekanan pada lawan kita yang akan mempengaruhi mereka untuk berubah? Siapa yang akan ditekan? Dalam bukunya yang berjudul Surat dari Penjara Birmingham, Martin Luther King Jr. menulis “Kamu mungkin akan bertanya: Mengapa aksi langsung? Mengapa ikut hadir, berbaris dan lain-lain? Apakah negosiasi bukan jalan yang lebih baik?” Anda tentu benar dalam mengundang mereka untuk bernegosiasi. Sungguh, ini merupakan tujuan dari aksi secara langsung. Aksi-aksi langsung non-kekerasan menuntut untuk terciptanya krisis dan ke­tegangan kreatif di mana sebuah masyarakat yang secara konstan menolak bernegosiasi dipaksa untuk berhadapan dengan isu tersebut. Hal ini juga menuntut isu yang sedemikian dramatis yang tidak boleh diabaikan lagi.

Latihan: Tulislah kutipan ini dalam dinding grafik Anda. Minta kelompok tersebut untuk mengidentifikasi krisis, ketegangan kreatif, masyarakat dan bagaimana mereka dapat mendramatisir isu tersebut dalam kampanye mereka. Lihat juga ‘Langkah-langkah Eskalasi’.

Rekonsiliasi

‘Sebagai sebuah cara untuk menangani konflik, kadang-kadang upaya-upaya non-kekerasan untuk menuju rekonsiliasi bisa dilakukan dengan: me­nguat­kan jalinan sosial, memberdayakan masyarakat level bawah, me­masuk­kan orang dari pihak-pihak yang berbeda dalam mencari pemecahan’ (prinsip-prinsip WRI). Apakah kita bekerja untuk penyelesaian win-win solution atau win-lose solution? Apakah rekonsiliasi bersifat umum atau pribadi? (Dalam beberapa kampanye non-kekerasan yang berhasil dalam gerakan hak-hak sipil Amerika, para pebisnis kulit putih meminta agar penyatuan restoran di­lakukan tanpa statement yang bersifat terbuka untuk menghindari reaksi negatif, sementara dalam kasus-kasus yang lain event yang terbuka menampakkan desegregasi sebuah sistem).

Merayakan

Ketika kita mencapai tujuan kita, kita harus dapat menyisihkan waktu untuk me­ngenali apa yang telah kita lakukan dan merayakan prestasi kita. Kadang-kadang kita mencapai apa yang ada di balik tujuan kita, atau menyelesaikan tujuan-tujuan yang lain. Evaluasi kolektif sangat penting, yaitu dengan cara men­dokumentasikan semua keberhasilan dan kegagalan dan berbagi dengan orang lain yang kita jadikan sumber untuk belajar dari sejak ketika kita mengambil langkah menuju tujuan kita. Bila aktivis-aktivis kunci telah lelah, mereka tidak boleh melihat apa yang sedang dicapai. Pihak yang memberikan dorongan boleh jadi tidak menerima bahwa sebuah kampanye berhenti dan mungkin membutuhkan bantuan untuk bisa menerima bahwa bagian terbaik menegakkan kepala Anda dalam melawan sebuah tembok batako yang sangat kuat adalah ketika Anda berhenti.

Mengevaluasi

Ada banyak hal yang harus dipertimbangkan untuk mengembangkan strategi kampanye non-kekerasan. Kita perlu belajar berpikir secara strategis untuk mengembangkan pemahaman kita mengenai kekuatan non-kekerasan dan untuk melangkah melalui beberapa tahapan yang dapat menggerakkan kita secara efektif ke arah tujuan kita. Hal ini seharusnya dapat menguatkan dan memberdayakan masyarakat kita sepanjang jalan. Mengevaluasi kampanye penting dilakukan, tidak hanya ketika di akhir, melainkan juga ketika kita mulai melangkah. Jika kita tidak melakukan evaluasi, kita mungkin akan melakukan kesalahan-kesalahan yang tidak akan kita ketahui hingga pada saat yang sudah sangat terlambat. Kita harus mendengarkan pendapat semua orang yang terlibat. Terus mencatat isi pertemuan, keputusan-keputusan dan kerja kita menjadi dasar bagi studi kasus kita sendiri. Apakah kita sukses atau tidak, kita dapat belajar dari pengalaman kita sendiri. Ini tentu hal yang sangat krusial agar kita dapat berbagi strategi dan cerita.

Lihat ‘Evaluasi Aksi’, dan ‘Petunjuk Studi Kasus Kampanye’