Connexion utilisateur

Interface language

Image linked to WW1 page Image linked to Countering the Militarisation of Youth website (external link) Image linked to Handbook for Nonviolent Campaigns book page
Diaspora link
Facebook link link
Twitter link
 

Bekerja dalam Kelompok

kembali ke daftar isi

Tantangan bagi gerakan non-kekerasan apapun adalah bagaimana mempersiapkan aksinya. Sejak pendudukan lokasi tenaga nuklir Sea­brook tahun 1976 di New Hampshire, USA, (lihat ‘Searbrook-Wyhl-Marckolsheim’, h. 106) sejumlah kampanye non-kekerasan Barat lebih menyukai penggunaan model afinitas kelompok aksi (affinity group model of action) dipasangkan dengan pembuatan keputusan konsensus (consensus decision-making). Bagian ini memperkenalkan gaya itu.

Kelompok-kelompok Koneksi (Affinity Groups)

‘Kelompok-kelompok koneksi’ adalah kelompok-kelompok mandiri yang terdiri dari 5 sampai 15 orang. Kelompok afinitas dalam pengertian ini adalah kelompok orang-orang yang tidak hanya memiliki ketertarikan satu sama lain, tetapi juga yang saling mengetahui kekuatan dan kelemahan dan saling mndukung karena mereka berpartisipasi (atau ingin ikut serta) bersama dalam kampanye non-kekerasan. Kelompok afinitas dan dewan pembicara (spokes­council) menantang pengambilan keputusan secara top-down atau secara tawaran kekuasaan (power-over) dan mengorganisir serta mem­berdayakan orang-orang yang terlibat untuk melakukan aksi langsung yang kreatif. Mereka membolehkan orang-orang untuk bertindak bersama dengan cara terdesentralisir dan non-hirarkhis dengan memberikan kekuasaan peng­ambilan keputusan kepada kelompok afinitas.

Kelompok-kelompok afinitas telah digunakan secara konstruktif dalam aksi massa anti globalisasi di USA (Seattle 1997), protes-protes anti nuklir di Eropa dan Amerika Utara (mulai tahun 70-an), dan aksi-aksi protes non-kekerasan skala besar dan kecil di berbagai negara.

Dengan Siapa Orang Membuat sebuah Kelompok Afinitas?

Jawaban sederhananya adalah: dengan orang yang Anda kenal dan orang yang punya pendapat sama tentang isu yang dipertanyakan serta metode-metode aksi yang digunakan untuk menghadapinya. Mereka bisa jadi orang yang saudara kenal di kuliah, bekerja dengannya, bergaul dengannya, atau hidup bermasyarakat dengannya. Pokoknya, poin yang ditekankan bahwa Anda punya sesuatu yang sama selain isu yang membawa Anda bersama dan bahwa Anda memiliki saling kepercayaan.

Aspek penting dari menjadi bagian kelompok afinitas adalah untuk saling mempelajari sudut pandang masing-masing berkaitan dengan kampanye atau isu dan metode-metode aksi yang lebih Anda sukai. Ini dapat melibatkan sharing waktu bersama, mendiskusikan isu dan metode-metode aksi, atau melakukan beberapa latihan menyangkut aktivis secara bersama (seperti menghadiri workshop) atau merancang bagaimana menghadapi taktik lawan atau polisi (misalnya konter terhadap demonstrasi, mis-informasi kampanye, agen provokator). Anda harus mengembangkan ide yang di-share tentang apa yang Anda inginkan secara individu maupun kolektif dari aksi/kampanye , bagaimana itu berjalan, dukungan apa yang Anda butuhkan dari orang lain, dan apa yang dapat Anda tawarkan untuk orang lain. Itu akan membantu jika Anda memiliki kesepakatan mengenai hal-hal mendasar tertentu dari aksi itu: seberapa aktif, seberapa religius, seberapa non-kekerasan, seberapa dalam hubungannya, seberapa mau meresikokan ditangkap, kapan Anda mungkin ingin memberi jaminan pelepasan tahanan, pandangan politik Anda secara menyeluruh, metode aksi Anda, dan lain-lain.

Proses Kelompok

Bekerja dalam kelompok, apakah itu dalam keluarga kita, di tempat kerja, atau di organisasi, adalah salah satu aktivitas sosial paling mendasar dan merupakan bagian luas dari kerja untuk perubahan sosial. Oleh karena itu, sangat penting bahwa kelompok-kelompok yang bekerja untuk perubahan mengembangkan metode-metode pengerjaan tugas-tugas wajib secara efektif, memuaskan, dan demokratis, baik untuk keperluan mereka sendiri maupun untuk share dengan yang lain.

Mengurangi keotoriteran dan struktur hirarkhis merupakan suatu bentuk mendemokratisasikan kelompok, tetapi itu tidak berarti menolak semua struktur. Kelompok yang baik perlu memfasilitasi kreativitas, komunitas dan efektifitas, dalam satu kombinasi yang mendorong non-kekerasan tumbuh dalam diri dan masyarakat kita. Kelompok yang berfungsi baik adalah sebuah produk struktur-struktur yang kooperatif dan partisipasi anggota-anggota kelompok yang cerdas dan bertanggung jawab.

Kesepakatan/Aturan-aturan Dasar

Bahkan sekalipun itu kelompok informal dan setiap orang rileks, per­setujuan kelompok tentang aturan-aturan dasar itu bijaksana. Kontrak kelom­pok atau seperangkat aturan kerja atau kelompok yang disetujui oleh semua orang, merupakan panduan yang sangat penting bagi proses sebuah ke­lompok. Aturan itu dapat dirujuk jika kesulitan muncul. Misalnya, sebuah ke­lompok setuju memulai pertemuan tepat waktu, mendorong partisipasi secara se­imbang, membuat keputusan dengan konsensus, mengambil giliran yang menfasilitasi kerja kelompok, hanya ada satu orang berbicara pada satu waktu, berbicara hanya pada diri Anda sendiri, menghormati kerahasiaan, tidak melarang pertanyaan atau menganggap itu bodoh, tidak membolehkan menulis, hanya mem-volunteer-kan diri Anda sendiri, dan lain-lain. Banyak orang sekarang mengenal aturan-aturan dasar ini, jadi seorang fasilitator mungkin membuat satu daftar yang disarankan agar kelompok dapat menyesuaikan. Penting untuk memiliki kesepakatan aktif dari semua orang dalam kelompok untuk membuat ‘kontrak’ satu sama lain.

Satu isu yang mungkin membutuhkan klarifikasi adalah pengertian ‘confidentiality’ bagi kelompok ini. Apakah itu berarti tidak berbagi apapun dari workshop, atau apakah itu berarti bahwa tema-tema luas dan apa yang telah dilakukan dapat di-share tetapi bahwa tidak boleh ada kutipan diberikan atau disandarkan pada seseorang secara langsung, atau apakah itu berarti hanya tidak boleh mengulang cerita pribadi anggota-anggota kelompok? Semakin lama suatu workshop atau semakin intens atau personal suatu isu, semakin kurang berpengalaman orang dalam kelompok kerja, atau semakin sensitif se­buah topik, semakin banyak waktu yang Anda perlukan untuk mengklarifikasi dan menyepakati aturan-aturan dasar. Ingatlah betul-betul bahwa jika situasi kelompok berubah, mungkin perlu meninjau kembali ‘kontrak’ dan memutus­kan perubahan ‘aturan’. Ini adalah sebuah perbedaan penting antara aturan-aturan yang dipaksakan pada sebuah kelompok dan aturan-aturan yang disepakati oleh kelompok secara bersama-sama mengikuti kehendak bebas mereka.

Lihat juga ‘Prinsip Aksi Non-Kekerasan’

Memfasilitasi Pertemuan Kelompok

Kelompok afinitas sering memutuskan untuk menggunakan fasilitator guna membantu kelompok memenuhi kebutuhannya. Para anggota kelompok sering bergiliran memainkan peran ini. Seorang fasilitator menerima tanggung jawab untuk membantu kelompok melaksanakan tugas bersama, misalnya, me­nelusuri agenda dalam waktu yang tersedia dan membuat keputusan dan rencana wajib. Seorang fasilitator tidak membuat keputusan untuk kelompok, tetapi menyarankan cara-cara yang akan membantu kelompok bergerak maju. Dia bekerja sedemikian rupa sehingga menjadikan orang lain sadar bahwa mereka bertanggung jawab, bahwa urusan mereka sedang dilakukan, dan bahwa setiap orang punya peran untuk dimainkan.

Perlu ditekankan bahwa tanggung jawab fasilitator adalah lebih kepada kelompok dan pekerjaannya ketimbang kepada individu-individu dalam kelompok. Selain itu, seseorang dengan keterkaitan erat terhadap isu memiliki kesulitan lebih besar untuk berfungsi sebagai seorang fasilitator yang baik.

Untuk informasi lebih detail tentang fasilitasi kelompok, lihat ‘Fasilitasi Pertemuan – Metode No-Magic’ oleh Berit Lakey (http://www.reclaiming.org/ resources/consensus/blaken.html) dan informasi di bagian empat, ‘Tugas dan Alat untuk Mengorganisir dan Memfasilitasi Training’)

Peran Khusus dalam Sebuah Pertemuan Kelompok

Bergiliran pada peran-peran yang berbeda dalam sebuah kelompok mem­bantu para individu mengalami beragam sisi perilaku kelompok dan mem­perkuat kelompok afinitas. Selain fasilitator pertemuan (yang membantu kelompok melewati agendanya), peran-peran lainnya membantu kerja dari kelompok itu. Peran-peran khusus ini menjadi sangat penting jika kelompok itu lebih besar atau jika kelompok itu ingin memberikan perhatian khusus pada perbaikan proses kelompok terhadap isu-isu spesifik.

■ Seorang co-fasilitator untuk membantu fasilitator.
■ Seorang pencatat yang merekam keputusan-keputusan dan meyakin­kan bahwa setiap orang memiliki satu copy sehingga tahu apa keputusan-keputusan yang telah diambil oleh kelompok.
■ Seorang time-keeper untuk menjaga kelompok tahu seberapa lancar kelompok mengikuti rencana waktu dan progressnya menuju penye­lesaian agenda kelompok.

Peran-peran lain mungkin berguna pada waktunya, khususnya jika kelompok itu punya masalah-masalah yang muncul kembali. Misalnya, seorang ‘pengawas proses’ mungkin melihat bentuk-bentuk partisipasi dalam per­temuan dan punya saran untuk memperbaiki dinamika atau mungkin meng­angkat isu tentang prilaku opressif, power games, atau diskriminasi (ras, jen­der, klas, umur) dalam kelompok. Seorang ‘pengawas keadaan’ memberikan perhatian khusus pada komunikasi non-verbal emosional tersembunyi (termasuk perilaku konflik), atau tingkat energi dalam kelompok, membuat saran tentang perbaikan suasana kelompok sebelum sesuatunya berubah menjadi masalah.

Diadaptasi dari Tri-denting It Handook, edisi ketiga, tersedia di http://tridentploughshares.org/article1072#p26

Peran-peran dalam Kelompok Afinitas Selama Aksi

Selama aksi non-kekerasan, sebuah kelompok afinitas memutuskan apa peran-peran yang diperlukan oleh aksi dan orang-orangnya memilih peran apa yang akan mereka lakukan. Peran pendukung penting bagi kesuksesan sebuah aksi dan bagi keselamatan pesertanya. Peran-peran yang didaftar dalam buku pegangan ini (lihat ‘Peran Selama, Sebelum dan Setelah Aksi’ h. 94) adalah umum, jangan dianggap sebagai blueprint untuk semua aksi. Aksi yang berbeda menuntut peran yang berbeda pula. Masing-masing kelompok harus berfikir tentang tugas-tugas yang akan diperlukannya dan bagaimana me­ya­kin­kan mereka melakukannya sejak awal dalam perencanaan. Kadang-kadang, orang bisa mengambil peran lebih dari satu, misalnya seorang pengamat hukum (legal observer) mungkin juga menjadi penolong pertama, peng­hubung polisi, atau bahkan kontak media. Kuncinya adalah meyakinkan bahwa semua peran yang wajib tercakup sehingga semua memahami cakupan komit­men sebelum mulai dan bahwa tidak ada seorang pun yang mengambil tugas (pen­dukung atau lainnya) yang mereka tidak mampu me­lak­sana­kan­nya. (Sumber:http://www.scotland4peace.org/Peace%20Education/Handout%20Six%20-%20Roles,%20Safety%20and%20Afinity%20Groups.pdf)

Pengambilan Keputusan (Decision-Making)

Dalam gerakan-gerakan non-kekerasan dan khususnya selama aksi (lang­sung) non-kekerasan, pengambilan keputusan memerlukan perhatian khusus. Non-kekerasan itu lebih dari sekedar tidak adanya kekerasan; ia sangat erat kaitannya dengan isu kekuasaan, dengan metode-metode pengambilan ke­putusan. Untuk menghindari bentuk-bentuk baru dominasi dalam kelompok, proses diskusi dan pengambilan keputusan kelompok memerlukan sifat partisipatoris dan memberdayakan. Pengambilan keputusan konsensus ber­tujuan mendorong semua orang untuk berpartisipasi dan mengekspresikan pendapat mereka, berusaha menemukan dukungan untuk keputusan dalam kelompok dengan melibatkan semua anggotanya. Agaknya, para anggota kelompok akan lebih kuat mendukung sebuah keputusan yang dibuat melalui proses konsensus. Konsensus dapat digunakan dalam berbagai situasi kelompok dan secara khusus berguna ketika kelompok sedang mempersiapkan diri untuk melakukan aksi non-kekerasan satu sama lain. Beberapa kelompok mengadopsi sebuah sistem dimana mereka pertama berusaha mencapai konsensus, tetapi jika mereka tidak dapat dalam batas waktu yang masuk akal, baru kemudian mereka voting. Akan tetapi, ini tidak selalu merupakan keharusan dalam kelompok –kelompok afinitas kecil.

Ikut serta dalam aksi-aksi Women’s Peace Camp di Greeham Common di Inggris pada tahun 1980-an, seorang penulis feminist dan pelatih non-kekerasan, Starhawk, mendapati dirinya dalam gegar budaya (culture shock). ‘Berlawanan dengan gaya konsensus pantai Barat kami AS yang melibatkan sejumlah fasilitator, agenda, rencana dan proses-proses formal, pertemuan-pertemuan mereka kelihatannya tidak memiliki struktur sama sekali. ... Saya mendapatkan rasa kebebasan yang sangat memuaskan dan energi dalam diskusi yang tidak terganggu oleh formalitas. Proses konsensus yang saya ketahui dan praktekkan kelihatannya, dalam retrospeksi, sangat terkontrol dan mengontrol. ... Pada saat yang sama, proses Greeham-style juga memiliki kelemahan-kelemahan. Kelebihsukaan kelompok untuk melakukan aksi dari pada untuk bicara menghasilkan bias inheren menuju aksi-aksi yang lebih ekstrem dan militan. Tanpa fasilitasi, perempuan yang lebih keras dan vokal cenderung mendominasi diskusi. Perempuan yang punya ketakutan, ke­khawatir­an atau rencana alternatif sering merasa tidak didengarkan. Masing-masing kelompok perlu mengembangkan proses pengambilan keputusan yang sesuai dengan kondisi khasnya masing-masing. Keseimbangan antara rencana dan spontanitas, antara proses formal dan free-for all infor­mal, selalu hidup, dinamis dan berubah-ubah. Tidak ada cara tunggal untuk semua kelompok (Starhawk, Truth or Dare: Encounter with Power, Authority and Mystery. Collins 1987).
Apa yang tertulis berikut ini berkaitan terutama dengan pengambilan keputusan konsensus, tetapi perlu mendengarkan peringatan Starhawk tentang kapan tidak menggunakan konsensus: a) Ketika tidak ada kelompok keberatan (misalnya, ketika para anggota tidak mengakui keterikatan kelompok terhadap keinginan individual mereka, konsensus menjadi sebuah latihan dalam frustasi); b) Ketika tidak ada pilihan yang bagus (misalnya, ketika kelompok harus memilih antara terus atau berhenti); c) Ketika mereka dapat melihat putih mata Anda (‘menunjuk pimpinan sementara, mungkin paling bijaksana’); d) Ketika isunya sepele (undi dengan koin); e)Ketika kelompok tidak memiliki informasi yang cukup.

Pengambilan Keputusan Konsensus adalah Sebuah Proses

Konsensus adalah sebuah proses pengambilan keputusan kelompok di mana seluruh kelompok orang dapat sampai pada kesepakatan bersama. Pengambilan keputusan itu berdasarkan pada mendengarkan, menghormati dan partisipasi oleh semua orang. Tujuannya adalah untuk mendapatkan keputusan yang disetujui oleh semua anggota kelompok; setiap orang dalam kelompok berkeinginan mendorong keputusan akhir. Akan tetapi, jelas bahwa persetujuan penuh tidak serta merta berarti bahwa setiap orang harus puas sepenuhnya dengan hasil akhirnya: dalam kenyataannya, kepuasan total atau persetujuan penuh itu agak jarang terjadi.

Keputusan-keputusan mayoritas dapat menghantarkan pada perjuangan kekuasaan antara faksi-faksi yang berbeda dalam sebuah kelompok yang lebih berkompetisi daripada menghormati pendapat satu sama lain. Mereka meng­gunakan kecemerlangan mereka untuk saling merongrong. Kebalikannya, proses konsensus mendorong pada kreativitas, pemahaman, pengalaman dan perspektif seluruh kelompok. Perbedaan-perbedaan diantara orang, men­stimulasi pertanyaan lebih dalam dan kebijaksanaan lebih besar.

Jadi bagaimana pengambilan keputusan kooperatif bekerja? Pendapat, ide dan reservasi seluruh peserta didaftar dan didiskusikan. Pendapat-pendapat yang berbeda diangkat dan dicatat. Tidak ada ide yang hilang dan setiap input dari anggota dinilai sebagai bagian dari solusi. Diskusi yang terbuka dan penuh penghormatan itu penting dalam memungkinkan kelompok mencapai ke­putusan atas dasar mana—dalam aksi non-kekerasan—orang akan me­nempat­­kan diri mereka dan badan mereka ‘pada garis’.
Konsensus dapat menarik karena anggota-anggota kelompok secara aktif mencari cara untuk menciptakan kesepakatan bersama. Seringkali itu juga sangat sulit, karena setiap orang perlu memecahkan sikap bahwa ‘ide saya adalah solusi terbaik’. Konsensus tidak hanya bekerja untuk mencapai solusi-solusi yang lebih baik, tetapi juga untuk mempromosikan pertumbuhan masyarakat dan kepercayaan dalam kelompok. Konsensus adalah proses yang terus berlangsung dan bukan sekedar metode voting yang berbeda.

Posisi-posisi dalam Sebuah Konsensus

Karena tujuan itu bukan merupakan keputusan bulat, keputusan harus mempunyai tempat bagi para anggota kelompok yang tidak secara total mengadopsi usulan. Para peserta dalam proses pengambilan keputusan lebih mau mendukung suatu ide yang mana mereka mungkin mempunyai reservasi (persyaratan tertentu terhadap persetujuan) atau keberatan jika kelompok itu secara aktif menerima dan mendengar persetujuan mereka. Jika seseorang hanya diberi pilihan mendukung, tidak mendukung atau berdiri di samping saja, itu meninggalkan ruang yang sangat kurang untuk menjadi bagian dari konsensus.

Dalam sebuah konsensus kelompok, 5 posisi mungkin eksis:

■ Ini adalah ide besar dan saya mendukung sepenuhnya. (Ke­se­pakat­an penuh)
■ Saya­ punya persyaratan, tetapi saya akan mendukungnya. (Men­dukung)
■ Saya punya persyaratan serius, tetapi saya dapat menerimanya. (Pe­nerimaaan)
■ Saya keberatan, tetapi saya dapat hidup dengan ini. (Toleran)
■ Saya tidak dapat melakukan ini, tetapi tidak akan menghentikan kelompok dari melakukan ini. (Berdiri di pinggir).

Tentu saja, jika sejumlah besar orang tidak mendukung atau menerima keputusan atau hanya berdiri di samping, maka konsensus menjadi lemah dan mungkin akan berakhir pula dengan hasil yang lemah.
Dalam kasus apa saja, kelompok hendaknya memotifasi orang-orang untuk mengekspresikan persyaratan dan keberatannya terhadap kesepakatan dan hendaknya berusaha menangani pendapat-pendapat ini. Ini dapat dilaku­kan dengan memodifikasi usulan atau mungkin dengan menawarkan ke­yakinan kem­bali atau klarifikasi pada poin-poin tertentu. Pada saat yang sama, individu-individu yang tidak sepenuhnya setuju dengan item yang didiskusikan hendaknya meneliti pendapat mereka untuk melihat apakah mereka dapat mendukung, menerima atau mentoleransi keputusan yang diusulkan atau jika mereka mungkin berdiri di pinggir.

Adalah mungkin bagi individu anggota kelompok untuk memiliki keberatan atau ketidaksetujuan tetapi pada saat yang sama berpartisipasi dalam konsensus terhadap keputusan yang didukung sejumlah besar anggota ke­lompok. Ini adalah kesadaran kunci dan merupakan bagian penting untuk sampai pada konsensus. Terdapat perbedaan penting antara ketidak­setujuan dengan yang lain dalam kelompok dengan membloking konsensus. Ketidak­setujuan merupakan bagian dari proses diskusi.

Membloking Konsensus

Keputusan individual untuk memblok sebuah konsensus hendaknya tidak gampang dilakukan. Jika Anda memblok sebuah konsensus yang didukung kuat oleh semua anggota lainnya dari kelompok, secara esensial Anda mengatakan kepada kelompok bahwa keputusan itu sangat salah se­hingga Anda tidak ingin mengizinkannya bergerak maju. Jika, setelah diskusi, ke­lom­pok mendekati persetujuan bersama, tetapi satu atau beberapa individu memiliki keberatan yang sangat kuat sehingga mereka tidak bisa menjadi bagian dari konsensus, maka mereka mempunyai salah satu dari pendapat berikut ini:

■ Ini tidak dapat diterima secara total atau keputusan yang tidak bermoral atau tidak manusiawi. Saya tidak dapat mendukung ini, dan saya tidak dapat mengizinkan kelompok ini meneruskan ke­putusan ini. (Bloking)
■ Saya sepenuhnya melawan ini dan tidak bisa lagi bekerja bersama-sama dengan kelompok ini. (Menarik diri dari kelompok ini).
Jika seseorang memiliki keberatan sangat kuat, dan khususnya jika dia me­mutuskan untuk memblok konsensus, penting sekali untuk secara hati-hati dan jelas mengekspresikan keberatan itu dan alasan membloking kon­sen­sus itu. Sesungguhnya, orang hendaknya merasa wajib membuat saran yang lebih baik yang mungkin dapat diterima oleh semua orang. Ini akan mem­bantu orang lain memahami keberatannya dan mungkin akan mengantar­kan pada klarifikasi atas perbedaan-perbedaan itu. Dalam kasus apa saja, sangat pen­ting bahwa seseorang mereview keberatan dan persetujuannya untuk melihat apakah dia dapat menarik bloking itu dan hanya berdiri di pinggir saja terhadap keputusan itu, dengan memperbolehkan kelompok menerima keputusan.

Mencatat Keputusan Konsensus

Setelah sampai pada keputusan konsensus, sangat berguna untuk me­nanyakan kepada setiap orang siapa yang tidak mengambil posisi ‘setuju se­penuhnya’ untuk mengemukakan persetujuan, kekhawatiran, atau ke­beratan­nya. Merekam persetujuan, kekhawatiran atau keberatan ini dalam notulasi, bersama–sama dengan keputusan itu sendiri, menunjukkan dengan jelas bahwa kelompok menghargai keragaman pendapat dan mendorong semua orang untuk menyadari kesepakatan ini pada diskusi-diskusi yang akan datang atau pada follow-up terhadap keputusan itu. Kelompok-kelompok yang menanggapi pendapat-pendapat minoritas secara serius dengan cara ini biasanya mendapkan kohesivitas yang meningkat dalam aktivitas dan aksi-aksi mereka.

Jika Kelompok Tidak Dapat Mencapai Kesepakatan Konsensus

Jika kelompok tidak dapat mencapai konsensus, mungkin kelompok tidak memiliki informasi cukup untuk membuat keputusan. Mungkin diperlukan le­bih banyak waktu untuk diskusi? Apakah keputusan harus ditunda? Apakah kelompok ingin meminta satu usulan baru lagi? Apakah sebuah komite kecil dapat membantu menyusun beberapa alternatif usulan?

Aspek-aspek Penting Kapan Menggunakan Konsensus

Ada banyak format dan cara yang berbeda dalam membangun konsensus, dan pengalaman yang luas menunjukkan bahwa itu dapat berjalan. Akan tetapi, beberapa persyaratan harus dipenuhi sehingga pembangunan kon­sen­sus menjadi mungkin:

■ Tujuan atau interes bersama: Seluruh anggota kelompok perlu disatu­kan dalam tujuan atau interes bersama, apakah itu sebuah aksi, hidup secara komunal, atau menghijaukan lingkungan. Itu membantu me­netap­­kan secara jelas apa tujuan puncak kelompok ini dan me­nulis­kannya. Dalam situasi dimana konsensus tampaknya sulit dicapai, itu membantu untuk kembali lagi ke tujuan bersama dan mengingat ten­tang apa sebenarnya kelompok ini. Konsensus membutuhkan ko­mit­men, kesabaran dan kemauan untuk meletak­kan tujuan atau interes bersama di paling awal.
■ Komitmen terhadap pembangunan konsensus: Makin kuat komit­men untuk menggunakan konsensus, makin baik konsensus itu ber­jalan. Akan sangat merusak proses kelompok jika beberapa individu ingin kembali ke voting mayoritas dan mereka hanya menunggu kesempatan untuk mengatakan ‘Saya katakan kepada Anda bahwa itu tidak akan berjalan’.
■ Waktu yang cukup: Perlu waktu untuk belajar bekerja dengan cara ini. Ketika sebuah kelompok menjadi lebih terampil dalam proses ini, maka waktu yang diperlukan untuk pembuatan keputusan konsensus akan berkurang. Jika kelompok punya pendapat kuat yang ber­lawanan, mungkin diperlukan waktu lebih lama untuk mencapai konsensus.
■ Proses yang jelas: Percayalah bahwa kelompok ini jelas tentang proses yang akan digunakannya untuk menangani isu yang ada, termasuk memiliki satu fasilitator atau lebih untuk membantu ke­lompok bergerak melalui proses itu.

Proses untuk Menemukan Konsensus

■ Subjek-subjek diskusi perlu dipersiapkan dengan baik. Isu yang di­putuskan harus dinyatakan dengan jelas.
■ Pendapat-pendapat yang berbeda harus dikemukakan secara terbuka. Se­tiap orang harus diberi kesempatan untuk menyatakan pendapat atau kekhawatirannya.
■ Norma-norma yang disepakati, mungkin membatasi jumlah waktu orang yang minta bicara dan atau kadar waktu orang berbicara, untuk meyakinkan bahwa masing-masing peserta memiliki ke­sempatan untuk sepenuhnya didengar.
■ Diskusi melibatkan pendengaran aktif dan berbagi informasi. Kepen­ting­an dan informasi yang beragam dibagi sampai sense kelompok menjadi jelas.
■ Perspektif orang yang tidak setuju tidak hanya didengarkan tetapi juga direngkuh dan secara aktif dimasukkan dalam diskusi.
■ Perbedaan-perbedaan diselesaikan dengan diskusi. Para fasilitator mem­­bantu ini dengan membantu wilayah-wilayah kesepakatan dan me­nunjukkan ketidaksepakatan untuk mendorong diskusi lebih men­dalam.
■ Para fasilitator membantu proses konsensus dengan meng­arti­kulasi­kan sense diskusi, dengan bertanya apakah ada kekhawatiran lain, dengan meminta pemungutan suara untuk posisi-posisi dalam kelompok dan dengan mengusulkan kesimpulan dari keputusan konsensus.
■ Ide-ide dan solusi-solusi dibagi dengan kelompok dan tidak menjadi milik individu. Kelompok secara keseluruhan bertanggung jawab ter­hadap keputusan itu, dan keputusan itu menjadi milik kelompok.

Langkah-langkah Praktis untuk Mencapai Konsensus

Ada banyak sekali model konsensus (lihat alur skema pada berikut). Prosedur dasar berikut ini diambil dari Peace News, sebuah majalah untuk para aktivis perdamaian, Juni 1988:

1. Masalah, atau keputusan yang dibuat, didefinisikan dan diberi nama. Ini dilakukan untuk memisahkan masalah/pertanyaan dari persoalan pribadi.
2. Brainstorming solusi-solusi yang mungkin. Tulis itu semuanya, bah­kan yang gila sekalipun. Jaga energi tetap kuat untuk mem­peroleh saran-saran dengan cepat, siap di kepala.
3. Buatlah ruang untuk pertanyaan atau klarifikasi mengenai situasi.
4. Diskusikan opsi-opsi yang ditulis. Modifikasi beberapa diantaranya, singkirkan yang lainnya, dan kembangkan daftar pendek (short list). Mana yang paling favorit?
5. Nyatakan usulan atau pilihan usulan sehingga semua orang jelas. (Kadang-kadang penting untuk memecah kelompok menjadi sub-sub kelompok kecil untuk menulis masing-masing usulan secara jelas dan ringkas.
6. Diskusikan pro dan kontra dari masing-masing usulan, dan yakin­kan se­tiap orang punya kesempatan untuk berkontribusi.
7. Jika ada keberatan yang besar, kembali ke langkah 6. (Ini sedikit me­nyita waktu). Kadang-kadang Anda perlu kembali ke langkah 4.
8. Jika tidak ada keberatan yang besar, nyatakan keputusan dan ujilah untuk persetujuan.
9. Ketahuilah keberatan kecil dan masukkan perubahan-perubahan de­ngan ramah.
10. Diskusikan.
11. Ceklah untuk konsensus.

Khusus terhadap isu-isu kontroversial, mungkin sangat membantu untuk melakukan pungutan suara kecil terhadap posisi konsensus kelompok pada waktu-waktu yang berbeda selama diskusi. Pungutan suara kecil terhadap posisi konsensus kelompok ini hanya sebagai tes posisi-posisi dalam ke­lom­pok, bukan sebagai permintaan akhir untuk posisi-posisi konsensus. Satu cara mudah untuk melakukan pungutan suara kecil yaitu dengan meminta supaya menunjukkan tangan dengan lima jari untuk menunjukkan persetujuan se­penuh­­nya, 4 jari menunjukkan dukungan, 3 jari menunjukkan penerimaan, 2 jari menunjukkan toleransi, 1 jari menunjukkan berdiri di pinggir (menyisih), dan menggenggam jari menunjukkan bloking. (Alur pengambilan keputusan konsesnsus dapat dilihat pada skema berikut)

Untuk latihan dalam mempraktekkan konsensus, lihat ‘Pengambilan Keputusan’.

Konsensus dalam Kelompok-kelompok Besar: Dewan Juru Bicara

Model pengambilan keputusan konsensus yang digambarkan di atas ber­jalan baik dalam satu kelompok. Akan tetapi, aksi-aksi non-kekerasan yang lebih besar mensyaratkan kerjasama beberapa kelompok afinitas; metode untuk melakukannya yaitu dengan menggunakan dewan juru bicara (spokes­council). Dewan juru bicara merupakan sebuah alat untuk membuat keputusan-keputusan konsensus dalam kelompok-kelompok yang luas. Dalam dewan juru bicara, para juru bicara dari kelompok-kelompok yang lebih kecil datang bersama-sama untuk membuat keputusan-keputusan yang di-share. Masing-masing kelompok diwakili oleh juru bicaranya. Kelompok ini ber­komuni­kasi dengan pertemuan yang lebih luas melalui juru bicara ini, yang memperbolehkan ratusan orang diwakili dalam diskusi kelompok yang lebih kecil. Apa yang diminta dari para juru bicara untuk dilakukan adalah ter­gantung pada kelompok afinitas mereka masing-masing. Para juru bicara mungkin perlu berkonsultasi dengan kelompok mereka sebelum berdiskusi atau menyepakati subjek-subjek tertentu.

Berikut ini adalah garis besar proses untuk menggunakan metode dewan juru bicara. (Catatan: langkah 1 dan 2 dapat juga berjalan lebih lanjut dalam kelompok-kelompok afinitas kecil individual.)

1. Seluruh kelompok (semua peserta dari seluruh kelompok afinitas): Perkenalkan isu dan berikan kepada mereka semua informasi wajib.
2. Terangkan mengenai konsensus dan tentang proses dewan juru bicara.
3. Bentuklah kelompok-kelompok kecil (kelompok-kelompok afinitas). Kelompok-kelompok ini dapat berupa seleksi orang-orang secara acak pada pertemuan itu, kelompok-kelompok afinitas yang sudah ada atau kelompok-kelompok yang didasarkan pada tempat dimana orang-orang itu tinggal atau pada kesamaan bahasa.
4. Kelompok-kelompok kecil itu mendiskusikan isu, mengumpulkan ide-ide, mendiskusikan pro dan kontra, dan muncul dengan satu usulan atau lebih.
5. Masing-masing kelompok kecil menseleksi satu juru bicara (satu orang dari kelompok yang akan mewakili pandangan kelompok di dewan juru bicara). Kelompok-kelompok kecil memutuskan apakah juru bicara itu hanya seorang utusan untuk kelompok itu (yaitu menyampaikan informasi antara kelompok kecil dengan dewan juru bicara) atau apakah juru bicara itu dapat mengambil keputusan atas nama kelompoknya pada dewan juru bicara.
6. Para juru bicara datang bersama dalam dewan juru bicara. Secara bergiliran mereka mempresentasikan pandangan kelompok mereka masing-masing. Para juru bicara kemudian berdiskusi untuk mencoba menyatukan usulan-usulan kedalam satu ide yang dapat diolah. Selama proses ini, para juru bicara mungkin perlu minta time out untuk kem­bali pada kelompok mereka guna klarifikasi atau mengetahui apakah usulan yang dimodifikasi bisa diterima mereka. Juru bicara mungkin berbicara atas nama kelompok kecil, bukan untuk mempresentasikan pandangan pribadinya.
7. Ketika dewan juru bicara telah muncul dengan satu atau lebih usulan yang mungkin, para juru bicara bertemu dengan kelompok mereka dan mengecek kesepakatan atau keberatan kelompoknya. Kelompok-kelompok itu dapat juga menyarankan modifikasi lebih lanjut terhadap usulan-usulan itu.
8. Para juru bicara bertemu kembali di dewan juru bicara dan mengecek apakah para kelompok setuju. Jika tidak semuanya setuju, siklus diskusi berlanjut, atur sedemikian rupa antara waktu juru bicara bertemu dengan kelompok kecil mereka dan waktu untuk dewan juru bicara.
9. Kelompok-kelompok kecil dapat dan sering mengganti juru bicara mereka untuk memberikan kepada anggotanya kesempatan untuk bertindak sebagai juru bicara untuk kelompok.

Untuk latihan menggunakan Dewan Juru Bicara, lihat ‘Pengambilan Keputusan’, halaman....

Pengalaman dan Problematika

Selama 30 tahun terakhir model kelompok-kelompok afinitas dan peng­ambilan keputusan konsensus telah digunakan dalam berbagai aksi skala kecil maupun besar, seperti aksi-aksi anti tenaga nuklir di tahun 1970-an (Searbook, New Hampshire, Amerika Serikat; Torness, Scotlandia), aksi-aksi anti energi nuklir dan pelucutan senjata di Jerman pada tahun 1980-an dan 1990-an, dan aksi-aksi anti globalisasi pada tahun 1999 (Seattle, Washington, Amerika Serikat). Beberapa aksi terbesar yang menggunakan model kelompok afinitas/dewan juru bicara/ pengambilan keputusan kolektif telah ber­kembang sampai 2000 peserta atau bahkan lebih banyak lagi (misalnya, tahun 1996 di Seabrook, Amerika Serikat, tahun 1997 protes terhadap pengangkutan limbah nuklir di Wendlang, Jerman; lihat ­http://www.castor.de/diskus/ gruppen/x1000mal/5rundbri.html# Auswertung%20des%20SprechenInnenrates).

Banyak dari pengalaman-pengalaman ini bertujuan untuk lingkungan politik yang berubah, terutama pertumbuhan partisipasi yang tidak central yang terdesentralisasi dalam aksi-aksi dan kampanye non-kekerasan. Ini berakibat pada cara kelompok-kelompok ini sekarang mengorganisir aksi-aksi berskala luas.

Sangat sedikit sekali kelompok-kelompok afinitas yang bekerja dalam jangka panjang. Misalnya, kampanye anti nuklir Jerman “X-thousands in the way” mempunyai sedikit kelompok-kelompok afinitas yang masih berjalan, walaupun mereka masih eksis dan membentuk inti aksi. Kebanyakan aktivis ikut aksi-aksi kampanye ini sebagai individu atau dalam kelompok-kelompok kecil, yang membentuk kelompok-kelompok afinitas hanya menjelang adanya aksi. Oleh karena itu, satu atau dua hari persiapan diperlukan sebelum masing-masing aksi untuk menjadikan komunitas siap dan mampu bertindak, dan bahkan komunitas ini lebih sedikit daripada sebuah inti para peserta yang di­per­­luas. Kebanyakan aktivis ikut secara spontan dan tanpa banyak per­siapan, dan aksi harus direncanakan sedemikian rupa sehingga memungkinkan (Jochen Stay, Precondition and Social-Political Factors for Mass Civil Dis­obedience, The Broken Rifle, No. 69, March 2006: http://wri-irg.org/pdf/ br69-en.pdf).

Struktur ini lebih cocok ketika salah satu tujuannya adalah untuk meng­integrasikan sejumlah besar aktivis baru. Aksi ini secara umum lebih rendah resi­konya dan lebih didengar oleh publik.
Pilihan lainnya yaitu mendasarkan aksi-aksi lebih luas pada otonomi individu kelompok-kelompok afinitas, yang merencanakan dan melakukan variasi aksi-aksi skala kecil mereka sendiri secara simultan. Maka ‘skala besar’ nya kemudian dicapai melalui sejumlah aksi paralel. Struktur ini lebih cocok untuk aksi-aksi beresiko tinggi atau ketika tingkat represinya yang lebih tinggi dapat diharapkan.

Meskipun struktur kelompok afinitas/dewan juru bicara telah sukses digunakan untuk berbagai kampanye dan aksi, ia dapat dikembangkan lebih lanjut. Kelompok-kelompok yang belum mempunyai pengalaman dengan struktur ini dapat mempraktekkan manfaatnya. Terdapat juga kebutuhan untuk memperoleh pengalaman dan evaluasi lebih lanjut ketika menggunakan struk­tur ini bahkan dengan kelompok-kelompok orang yang lebih luas lagi.